Lorong waktu menawarkan kisah..
Seketika membawa sukmaku,
menapaki metamorfosa masa lalu dan masa kini …
Dimensi ruang dan waktu, membumbungkan tinggi Sang Garudaku
Pelatuk kolonialisme dicakar
Rajawali komunisme dihadang
Belibis perpecahan dilahap
Bahkan merpati-merpati pengadu domba diterkamnya geram
Sang Garudaku, mengapa kau merunduk tersungkur?
Mengapa luka-luka yang timbul dalam usaha pertahanan itu meremukkanmu?
Mengapa asap tanda perjuangan yang menyelubungi, mengaburkan pandanganmu?
Bangunlah Garuda !! Kau menang !! Lihat, kau mengalahkan mereka semua !!
Belum sempat katup bibirnya bergerak menanggapi
Lorong waktu mendamparkan sukma pada masa kini
Sang Garuda kehilangan lengan kaki dan timpang jalannya,
Sayapnya ringkih tersayat-sayat luka
Berjalan dalam padang mafia pajak ia tertatih
Menyusuri debu pasir injakan penggelap milyaran uang tabungan rakyat
Pula hentakan kaki terorisme jahanam,
bekas jejaknya abstrak dalam fatamorgana
Sang Garuda semakin tertatih.. seakan tak kuasa melanjutkan perjalanannya
di tengah padang belukar duri-duri kemunafikan penguasa
Semakin gegap gempita sorotan matanya,
tatkala memandang sumber air pencucian otak,
merambat lumut-lumut perseteruan agama, sayup-sayup kudengar,
“Ajaranku yang paling benar! Keyakinanmu menyesatkan!”
menggusarkan angin membuatnya kelabu
Hingga pada persimpangan jalan Sang Garuda rebah dan menangis
Air matanya meruah membanjiri gersang padang bumi pertiwi
Memohon doa, memanjatkan belas kasihan dari Sang Pencipta
Berharap rasional dan moral rakyat bukanlah bayang
Menjeritkan keadilan yang kini cacat akibat uang, uang, dan uang
Meratapkan pola pikir yang hanya berdemo namun tak berkontribusi
Menjalankan kewenangan bukan dengan kasih namun penyimpangan ambisi
Bak dewa, Sang Garuda menjelma dalam rupa Pancasila
Biar nyawanya hidup dalam sanubari penghuni padang pertiwi
Merasuk perjuangannya kala itu dalam ambang kematian
Supaya tangan memiliki genggaman erat
Supaya kepala penuh hikmat dan moral
Supaya kaki tak terantuk karang pengimbas perpecahan
Supaya bumi pertiwi berpondasi dasar teguh
Menggandeng sahabat bernama hukum, cetusan bersama
Menjadi alat penyadar ampuh walau fajar menyurut
No comments:
Post a Comment